coretan MALANG // April 2018

Ah, sebenernya kota ini udah masuk ke dalam target perjalanan gue sejak tahun lalu. Pamornya lagi naik karena punya beberapa area wisata menarik dan cuaca yang jauh lebih sejuk dari Ibukota, berbagai macam review bertebaran di sosial media mengenai kota Malang, ini bikin gue jadi pengen ikutan kesana.

Setelah beberapa kali gagal menjadwalkan perjalanan ke Malang karena ngga ada temen jalan atau karena ngga ada waktu yang cocok, awal tahun ini gue dapet info bagus dari kantor : akan ada perjalanan ke Malang untuk training selama 3 hari 2 malam!!

Namanya target ya ditaro dulu aja dalam daftar, terwujudnya kapan masih bisa diatur belakangan. Kurang bahagia apa coba, targetnya terpenuhi, dibayarin kantor pula hahaha…

Jadilah gue buru-buru susun itinerary, cari tau apa yang wajib gue datengin begitu ada di kota Apel itu. Coba kabarin beberapa rekan yang memang berdomisili di sana untuk minta referensi mereka. Dari sanalah gue memutuskan untuk extend perjalanan ini menjadi 5 hari 4 malam.

Malang, ini saatnya!

HARI PERTAMA :

Waktu yang gue tunggu dari tahun lalu akhirnya tiba, akhir bulan April 2018 kemarin gue terbang ke kota Malang dengan rute : Bandara Halim PK menuju Bandara Abdul Rachman Saleh yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 90 menit.

Agenda pertama : jelas  menjalani training yang udah disiapin kantor, training berjalan selama seharian, sehingga ngga banyak yang bisa gue ceritain dihari pertama ini. Waktu bebas baru gue dapetin setelah sesi makan malam di pukul 21.00 WIB, karena ngga mau buang waktu gue dan beberapa temen nyempetin mampir ke Wedang Ronde Titoni yang ada di Jl Zainal Arifin no. 17

Lokasi kedainya cukup kecil, hanya ada sekitar 6 meja yang tersedia dengan 4 kursi  di masing-masing mejanya. Mungkin sebagian besar pembeli memilih untuk bungkus bawa pulang dibandingkan makan di lokasi. Varian yang ditawarin ada : Ronde (baik yang basah maupun yang kering), Bubur Kacang Tanah, Angsle, Roti Goreng & Cakwe. Harganya berkisar antara Rp. 3.000 sd Rp. 8.000 per porsi

Malam itu pilihan kami adalah : Ronde basah, Angsle & Bubur Kacang Tanah

Perut udah keisi dan hangat, tubuh gue siap untuk istirahat. Malam itu gue menggunakan fasilitas taxi online yang masih tersedia sampai tengah malam

HARI KEDUA :

Tujuan berikutnya melipir ke daerah Batu yang berlokasi agak ke atas dari kota Malang, otomatis cuacanya juga lebih sejuk, semilir anginnya dingin dan panasnya ngga terik. Kenapa pilih Batu? karena menurut referensi beberapa orang, objek wisata memang banyak berlokasi di sana, dibandingkan Kota Malang itu sendiri.

Gue dan beberapa temen memilih Museum Angkut & Jatim Park 2. Meski cuma 2 lokasi, tapi cukup menguras waktu yang ada kok, karena 1 destinasi aja menawarkan banyak wahana dan fasilitas di dalamnya

Jatim Park 2 berisi kebun binatang yang konsepnya cukup menarik. Harga masuk ada di angka Rp. 75.000 pada saat hari biasa dan Rp. 105.000 pada saat akhir pekan, kedua harga tersebut untuk akses masuk ke Museum Satwa & Batu Secret Zoo.

Pengunjung diarahkan untuk bisa melihat semua jenis hewan yang tersedia karena jalurnya dibuatnya searah mengelilingi setiap kandang. Beberapa kandang bahkan didesign cukup terbuka dengan pagar rendah sehingga memudahkan pengunjung melihat lebih dekat. Hewannya variatif dan terlihat sehat bugar.

Selain Kebun Binatang, Jatim Park 2 menawarkan beberapa wahana permainan dengan infrastruktur yang cukup memadai dengan adanya musholla, food court & mini motor listrik yang disewakan untuk pengunjung.

Salah satu wahana yang menarik adalah : Tur Safari! Tur yang berjalan sekitar 15 menit ini mengajak kita keliling melihat beberapa hewan yang dibiarkan berkeliaran lepas sepanjang 1 km. Ada Unta, Rusa, Keledai, Banteng dan beberapa hewan lainnya. Kita bisa memberi makanan berupa sayuran wortel untuk menarik perhatian mereka, agar mendekat ke arah kendaraan yang kita tumpangi. Jenis sayuran yang disediakan seharga Rp. 10.000 per cup

Gimana dengan Museum Angkut?

Museum ini berjarak sekitar 2km dari Jatim Park 2, berisi koleksi semua jenis transportasi umum, dari kendaraan tradisional seperti becak & sepeda sampai kendaraan besar seperti mobil antik sd pesawat.

Harga masuknya sebesar Rp 70.000 pada saat weekdays dan Rp 80.000 per kepala pada saat weekend. Kalo kita bawa kamera akan tkena charge sebesar Rp. 30.000

Kesan yang gue dapatkan cukup menarik dan berwarna, jauh dari kesan monoton karena setiap bagiannya didesign dengan tema negara yang berbeda-beda. Kalau kita dateng di hari Sabtu, pas pukul 16.00 WIB, mereka menawarkan pertunjukan konvoi beberapa kendaraan antik yang masih berfungsi dengan baik, konvoinya cukup seru karena dibarengi dengan ajakan menari dan bernyanyi bersama beberapa cosplay tokoh superhero.

Puas berkeliling, kita bisa istirahat di Pasar Apung yang ada di dekat pintu keluar, mereka menawarkan aneka jajanan pasar yang disediain di atas perahu yang mengapung. Lumayan untuk sekedar duduk dan nyemil sebelum makan berat

Keluar dari Museum Angkut, langit udah cukup gelap, gue mutusin lanjut ke alun-alun Batu, karena pasti akan ada banyak jajanan di kedai kecil maupun kaki lima yang murah meriah. Pilihan gue malam itu adalah Pos Ketan Legenda yang katanya udah ada sejak tahun 1967. Konsep yang mereka tawarin adalah Ketan Susu dengan varian yang bermacam-macam, yang paling menarik bagi gue adalah Ketan Susu Durian, karena duriannya bener bener dikasih 1 biji sendiri, diamprokin bareng si ketan. Sementara temen-temen gue asik jajan sate gurita yang ada disekitar Alun-alun

Perut kenyang, pikiran tenang!!

HARI KETIGA :

Agenda gue dihari ketiga ini mengunjungi kampung warna warni yang lagi marak di beberapa kota di Indonesia, kalo di kota Malang, mereka punya : Jodipan!

Perkampungan yang cukup padat, uniknya setiap sisi dan sudut dipastikan berwarna warni, ada yang sekedar diberi warna ada juga yang sisinya diberi mural. Kampung ini terbagi menjadi 2 yaitu : Kampung 3G dan Kampung Jodipan. Keduanya dipisahkan oleh aliran sungai. Dengan biaya Rp 3.000 kita bisa dapet akses masuk ke 1 kampung juga dapet souvenir dalam bentuk sticker, jadi kalau mau masuk ke Kampung 3G & Kampung Jodipan total tiketnya Rp. 6.000,-

Meski kampungnya ngga terlalu besar, tapi cukup menantang untuk dieksplor, karena ada banyak anak tangga dan gang-gang kecil yang harus dilalui, setiap sudutnya bener bener berwarna-warni dan yang paling penting : bersih!

Warga lokal di sana kaya udah terbiasa liat turis bawa-bawa kamera bolak-balik depan rumah mereka, ada yang numpang foto, ada yang bikin video, ada yang sendiri ada yang bergerombol. Mereka ngga ngerasa jengah karena daerah teritorialnya dilalui orang asing.

jangan lupa pake kaos & alas kaki yang nyaman, karena naik turun tangga itu butuh energi hahaha, jangan sampe pas mau foto-foto outfitnya udah lecek, padahal background mural disana bagus-bagus

Setelahnya gue makan siang di Bakso President yang ada di Jl Batanghari No. 5. lokasinya tepat disamping rel kereta api dan tanpa pembatas apapun. Sensasi ini yang jadi daya tarik mereka : makan bakso bersama suara kereta lewat. Gue sendiri kurang tau kenapa dinamain Bakso President.

Sistem pemesanannya antri langsung di kasir sambil liat daftar menu yang dipajang di beberapa spot, sebutin menu pilihan dan bayar. Selanjutnya baru cari meja untuk makan, atau kalau dateng berdua bisa bagi tugas antara mesen dan cari tempat duduk

Dari cita rasa sih sebenernya biasa aja, kaya bakso pada umumnya, ngga ada yang berbeda dari cara penyajian juga variannya. Harga seporsinya berkisar antara Rp. 15.000 sd Rp. 31.000 per mangkok belum termasuk minuman. Untuk sekedar memenuhi rasa penasaran ngga ada salahnya mampir kalau memang lokasinya terjangkau

Udahannya? cari dessert dong!

Siang menjelang sore enaknya makan ice cream, jadilah Gue melipir ke Jl Basuki Rahmat 5, ada Toko OEN di sana yang nyediain aneka ice cream, konsepnya mirip Ragusa yang ada di Jakarta. Design bangunannya masih pake design bangunan Belanda, begitupun interior didalemnya.

Areanya cukup luas, ada pilihan indoor dan outdoor. Ada beberapa anak muda pas gue dateng kesana kemaren, selebihnya didominasi bapak-bapak, bahkan bule-bule. Oleh karena itu ada 1 pelayan yang khusus bisa berbahasa asing. Karena dari segi harga mereka cukup mahal, jadi sasaran targetnya mungkin emang bukan muda-mudi. Tapi untuk nongkrong santai sepanjang sore tanpa banyak orang, tempatnya cukup asik kok menurut gue. Setelahnya kudu buru-buru balik istirahat karena untuk besok agendanya udah dimulai dari pagi buta!

HARI KEEMPAT :

Jam 12.15 WIB dini hari gue udah rapih dan siap dijemput sama EO yang gue pake jasanya untuk trip ke Gunung Bromo. Mereka jemput di tempat gue nginep dengan menggunakan mobil Avanza. Kenapa harus sepagi itu? karena gue ambil paket open trip maka gue bergabung bersama turis lainnya. EO harus menjemput setiap peserta di tempat masing-masing, sedangkan perjalanan dari Kota Malang ke Gunung Bromo makan waktu sekitar 2 jam.

Targetnya untuk sampai check point adalah pukul 03.00 WIB, karena harus ganti kendaraan ke mobil Jeep, dari check point sampai ke destinasi pertama yaitu penanjakan butuh waktu agak lama sekitar 1 jam, ini karena jalurnya ngga luas dan banyak Jeep lainnya yang juga menuju penanjakan. Apa agendanya? menyaksikan matahari terbit dari titik tertinggi di kawasan tersebut.

Jeep ngga bisa anter peserta sampai titik tertinggi, jadi peserta tetep harus berjalan kaki sekitar 1km dari tempat parkir Jeep ke arah atas. Tantangan terberat selain nanjak ke atas adalah cuacanya yang dingiiiiin banget! Saat itu bisa mencapai 8°C

Ada yang memilih melipir dulu ke warung terdekat sekedar minum teh anget atau mesen Indomie Rebus, ada yang memilih nanjak ampe atas dan pilih posisi strategis untuk nonton Matahari Terbit. Gue? jelas memilih yang kedua.

Sampe penanjakan banyak yang pelukan atau sekedar dempet-dempetan untuk saling menghangatkan, duh simbiosis mutualisme nih hahaha.. untuk yang solo traveller emang jadi agak pahit ya pemandangannya karena ngga tau mau meluk siapa, untung suasananya gelap banget, jadi cukup kulit aja yang kedinginan, mata dan hatinya jangan :p

Menjelang matahari terbit, semua orang siap-siap berdiri dan ambil posisi terbaik. Cahaya pertama yang keluar adalah warna biru, muncul secara horisontal dari arah kiri ke arah kanan, diikuti pelan-pelan oleh warna orange, lalu menguning dan akhirnya semakin terang, secara perlahan tapi pasti.

Itu moment pertama gue melihat matahari terbit secara menyeluruh, indah.. banget ♥

Setelah puas foto-foto, semua balik ke jeep masing-masing dan turun menuju Pasir Berbisik yang lokasinya berdekatan dengan kawah Gunung Bromo. Jaraknya sih ngga terlalu jauh, tapi karena jalur yang dilewati ngga luas sedangkan volume jeepnya lumayan banyak jadi harus pelan-pelan. Beberapa orang ada yang memilih naik motor trail. Dari sini cuaca jadi lebih hangat daripada di atas penanjakan tadi.

Sesampainya di area Pasir Berbisik, semua kendaraan harus parkir di batas yang udah ditentuin dan selebihnya semua pengunjung harus berjalan kaki. Ada banyak kuda yang siap disewain jasanya untuk nganter kita ke Kawah Bromo dengan harga sekitar Rp. 100.000,-. Beberapa orang ambil opsi tersebut kalo mau cepet sampe atau kalo mau hemat tenaga.

Gue? memilih jalan kaki, menikmati langkah demi langkah, menikmati landscape yang ada di kanan dan kiri, menikmati euforianya. Lagian lumayan hemat Rp. 100.000 hahaha

Tapi emang ngga mudah untuk sampe ke atas, selain kena hembusan angin pasir, jalan di atas padang pasir itu juga ngga gampang. Belum lagi kita harus naik anak tangga untuk bener-bener sampe di atas bibir kawah Bromo, konon ada 250 anak tangga. Gue sih ngga ngitungin ya hahaha..

Begitu sampe di atas, kondisinya cukup curam karena jalur di bibir kawahnya nya sempit, semacam jalan setapak yang cuma cukup untuk 2 orang. Jadi kudu hati-hati banget kalo mau jalan dan ambil foto. Tapi pemandangan dari bibir kawah ngga kalah cakep.

Setelahnya kudu turun lagi dan balik ke jeep untuk menuju Bukit Teletubbies, ini semacam padang rumput yang cukup luas dengan beberapa rangkaian bukit hijau, cocok untuk spot foto foto yang instagramable. Meski di padang rumput, karena lokasinya ada di dataran tinggi, jadi cuacanya masih sejuk dan dingin, asik untuk kontemplasi.

Kalo ngerasa udah puas foto foto, kita bisa langsung balik ke check point awal tadi, saat bertukar mobil dari Avanza ke Jeep, ini artinya rangkaian tur Bromonya udah selesai. Kita akan dianter kembali ke Kota Malang sampai ke penginapan tempat dijemput sebelumnya, total tur biasanya 12 jam, dari pukul 12 malam sampai 12 siang, sampai Malang sekitar pukul 14.00 WIB

Ada aktivitas lagi? Ngga, gue memilih mandi dan tiduuuuuuurrr, sisa hari itu cuma gue pake untuk beli makan malam, edit foto dan lanjut tidur, bales dendam istirahat karena besok pagi gue kudu ke bandara untuk balik ke Jakarta, sengaja ambil penerbangan jam 10 pagi biar sampe rumah ngga sore-sore amat, mengingat hari itu adalah hari kerja.

Belum sempet coba semua kuliner yang Kota Malang tawarkan, misalnya Cwie Mie asli Malang. Gue juga batal mampir ke beberapa lokasi wisata lainnya semacem Coban Rais (wisata air terjun) juga Batu Spectacular Night. Terlebih masih ada Gunung Semeru yang belum disambangi padahal  masih 1 rangkaian dengan Gunung Bromo

Paragraf di atas cukup untuk jadi alasan balik ke Malang kan? Ah, ngebayanginnya jadi kangen sama cuaca & lalu lintas kota mereka :))

Advertisements

coret yang bukan PILIHANMU

G : Gue

T : Teman

T : Mas, mau ngga jadi cadangan?

G : Ngga, emang elo mau?

T : Kalau emang nasibnya jadi cadangan, ya mau gimana? Terima aja

G : Oh, ya itu pilihan lo, mau nerima nasib jadi cadangan

T : Tapi emang ngga ada pilihan

G : Selalu ada, gue percaya itu  🙂

Percakapan diatas adalah obrolan gue dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu, ini yang bikin gue tertarik nulis tentang materi ini

Iya, gue percaya setiap manusia punya pilihan yang bisa dipilih sepanjang hidupnya. Coba kita analogikan :

Seorang sarjana yang baru aja lulus kuliah sibuk dengan pikirannya sendiri, bahwa cari kerja itu ngga gampang, udah beberapa pameran kerja didatengin, beberapa CV udah dikirim melalui email atau dititipkan ke beberapa kenalan.

Sementara di luar sana, seorang HR juga sama kusutnya ngebukain CV demi CV yang masuk ke emailnya, folder-folder kandidat yang udah diseleksi sebelumnya pun berantakan di atas meja

Yang satu sibuk cari kerja, satunya lagi sibuk mencari pekerja. Sama-sama membutuhkan, sama-sama tersedia, tapi uniknya ngga saling menemukan.

Mungkin karena standard keduanya yang berbeda.

Terus, gimana supaya sama? Apakah harus menaikan standard? atau justru kudu diturunin? Itu pilihan

Kembali ke hati, setiap orang juga punya ukuran dan pilihannya masing-masing saat bicara pilihan hati.

Mau tetap sendiri, mau berpasangan, mau jadi yang utama, yang kedua bahkan yang ketiga? Bebas. Pilihlah sesuai kebutuhan masing-masing

Asalkan, setelah memilih berani bertanggung jawab dari pilihan tersebut. Jangan isi hidup kita dan orang-orang disekitar dengan keluhan dan rengekan tentang apa yang sudah kita pilih. Semua pilihan jelas ada konsekuensinya, sama-sama ada enak juga nelangsanya.

Gimana kalau salah milih? Ya mungkin aja, namanya juga milih.

Tapi setelah salah milih, kita tetap punya pilihan lagi kok, untuk bertahan pada pilihan yang salah atau pindah ke pilihan lainnya.

Bukankah disitu proses belajarnya?

Maka gue percaya, hidup ini juga tentang memilih.

Kalian juga boleh milih sepakat dengan tulisan ini atau ngga  🙂

coretan BOGOR // Maret 2018

Berawal pas gue nyusun rencana kerja untuk bulan Maret 2018 kemarin, gue baru sadar kalo term pertama tahun ini udah hampir selesai. Rasa-rasanya bolehlah ya gue kasih sedikit hadiah liburan ke diri sendiri

Seinget gue, terakhir keluar kota untuk kerja jalan-jalan itu waktu bulan Agustus 2017, artinya udah 6 bulan sebelumnya.

Otomatis gue langsung cek kalender yang ada di meja kerja, cari waktu yang cocok untuk kabur sebentar dari rutinitas. Untungnya bulan Maret 2018 punya hari libur yang agak panjang di minggu keempat.

Hmm, kebetulan intensitas kerjaan kalau akhir bulan biasanya juga rendah. COCOK!

Langkah berikutnya adalah nentuin destinasi, karena waktunya terbatas, jadi gue cuma berani milih area yang deketan sama Jakarta yaitu Bogor. Kenapa Bogor? Karena selain deket secara geografis, menurut gue kota ini juga punya pilihan kuliner yang variatif dan tempat-tempat ikonik yang bisa dikunjungi

Kalo nentuin waktu udah, lokasi juga udah, maka saatnya menghitung budget dan nyusun agenda apa saja yang mau dikerjain selama di sana . Ini penting, supaya begitu sampe di sana gue tau mau ngapain aja. Ngga harus persis sama dengan apa yang tertulis di agenda sih, asalkan juga jangan melenceng jauh dari rencana.

HARI PERTAMA : 30 MARET 2018

Gue mutusin pake transportasi umum untuk ke Bogor, itu kenapa pukul 07.00 WIB pagi gue harus sudah ada di stasiun Tanjung Barat, nunggu commuterline yang menuju ke arah Bogor. Berbekal kartu Flazz perjalanan ke Bogor cuma butuh biaya sebesar Rp. 4000,-. Entah karena masih pagi, atau karena melawan arus, tapi pagi itu commuterline cenderung sepi, gue bisa milih tempat duduk dengan leluasa dari gerbong ke gerbong, gue bisa nikmatin pemandangan dengan duduk manis, perjalanan yang makan waktu kurang lebih 54 menit itu jadi ngga terlalu berasa.

Begitu sampe di stasiun Bogor gue disambut cuaca cerah, bahkan siluet Gunung Salak bisa kelihatan begitu gue turun commuterline

Suasana stasiun Bogor sendiri ngga terlalu padat pagi itu,  sayangnya gue ngga bisa ambil gambar terlalu banyak karena sempet ditegur oleh bagian keamanan disana supaya ngga ngambil gambar di dalam stasiun, entah kenapa 🙂

Sampai di ujung stasiun yang mengarah ke jembatan penyebrangan, gue ngelihat stand kecil milik Roti Maryam Salman. Standnya cukup mencolok dari jauh karena berwarna orange. Dari beberapa blog maupun vlog yang gue ikutin, roti ini termasuk yang direkomendasikan untuk dicoba, meski ini bukan termasuk makanan khas kota Bogor tapi bisa jadi pilihan untuk ngebantu ganjel perut pagi itu sebelum keliling Bogor.

Rotinya punya bermacam-macam topping seperti Coklat, Kacang, Keju & Susu dengan kisaran harga Rp 5.000 sd Rp. 10.000 / pcs. Pilihan gue ada pada kombinasi Coklat & Kacang.

Setelah dapet sekantong Roti, gue naik tangga penyebrangan yang menjadi pintu keluar bagi para pejalan kaki, gue memutuskan untuk menuju Kebun Raya Bogor selagi cuaca masih bersahabat, karena makin siang khawatir akan makin panas, sedangkan sore hari dikhawatirkan cuacanya berubah menjadi mendung, namanya juga di Kota Hujan 🙂

Dari stasiun gue jalan kaki ke arah kiri ngelewatin Taman Topi yang juga menjadi salah satu tempat ikonik kota Bogor, tapi waktu itu gue sengaja ngga mampir supaya bisa lebih cepet sampe ke Kebun Raya. Jalan kaki?

Iya, selagi cerah dan belum panas!

Cuma butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampe di pintu gerbang Kebun Raya, dengan HTM sebesar Rp. 14.000/orang dewasa gue siap keliling Kebun Raya. Dari loket pembelian tiket ini kita juga bisa gunain fasilitas sewa sepeda dengan biaya Rp. 15.000 / 1 jam jika mau

Cukup banyak pilihan lokasi yang ada di Kebun Raya, tapi karena waktu yang gue punya cuma sampai jam 12.00 siang , jadi gue cuma milih beberapa diantaranya. Meski di dominasi oleh study tur anak sekolahan dan beberapa rombongan keluarga tapi suasananya masih cukup lowong dan asri, jadi masih asik untuk ditelusuri.

Museum Zoology, beberapa siswa sedang mengerjakan tugas

Roller blade sepertinya juga bisa menjadi pilihan menarik untuk  menelusuri Kebun Raya
Topi & payung menjadi atribut penting! Kacamata hitam jangan lupa ya

Bagian belakang Istana Bogor

Setelah ngerasa cukup puas lelah keliling Kebun Raya, gue mutusin segera melipir ke pintu keluar untuk nyari masjid terdekat karena sebentar lagi waktunya Shalat Jum’at. Sebenernya Kebun Raya juga punya prasarana untuk Shalat Jumat bagi pengunjungnya, tapi gue lebih milih shalat di sekitar Surya Kencana. Kenapa? Supaya bisa lebih cepet jajan aneka kuliner disana :))

Surya Kencana ada tepat di depan Kebun Raya, sebuah lokasi yang sepanjang jalannya dipenuhi aneka kuliner, baik dalam bentuk rumah makan maupun gerobak kaki lima. Setelah Jum’at-an gue segera melipir, meski jalanannya satu arah tapi karena disesaki para pedagang jalanan, Surya Kencana (hampir) selalu macet. Jadi kalo kalian masih punya banyak tenaga, gue saranin untuk jalan kaki aja karena akan lebih cepat dan puas lihat-lihat setiap jajanan, tapi kalo emang sudah terlalu capek, ngga usah khawatit karena ada angkutan umum yang siap ditumpangi dengan biaya Rp. 4000,-/orang

Apa saja yang berhasil gue dapetin disana?

ES MANGGA/PALA/SIRSAK seharga Rp 7.000/plastik. Penyajiannya menggunakan gelas plastik yang dikasih es batu. INI SEGER!
LUMPIA BASAHKonon ini jadi Lumpia basah paling laris sepanjang Surya Kencana, ada di depan kedai Ngo Hiang, yang gerobaknya paling mencolok : warna hijau! Rp 13.000/porsi, makannya dicocol pake saus kacang.
LAKSA MANG WAHYU.Dari pertigaan Gang Aut belok ke arah kiri. Rp. 11.500/mangkok, meski kedainya kecil, tapi karena letaknya masuk ke dalam gang, kita masih bisa duduk di pinggir jalan pake kursi bakso tanpa takut bikin macet. Isian laksanya cukup lengkap : Tauge, Tahu, Telur Rebus, Serundeng, Bihun, Oncom & Kuah Santan
Ini ngga kalah seger, rasa asemnya terdiri dari campuran rempah-rempah yang disajikan dalam keadaan dingin. Rp. 5000/gelas. 
Kondisi Surya Kencana pada siang hari

Setelah ngerasa cukup begah bolak-balik jajan, baru berasa kalau badan juga mulai pegel diajak keliling dari pagi. Jadi gue mutusin untuk menuju penginapan supaya bisa istirahat sekaligus bersih-bersih sebelum keliling lagi nanti malam!

Sesuai rencana, abis ngelurusin kaki sekitar 3 jam-an, setelah maghrib gue dijemput 2 orang temen yang emang warga Bogor. Karena saat itu akhir pekan, lalu lintas Bogor cukup macet di beberapa tempat, jadi kami memutuskan untuk ke satu lokasi yang punya banyak pilihan kuliner, yaitu : Taman Kencana. Diantara banyak restoran, kami pilih Macaroni Panggang, karena tempat lainnya terlalu rame dengan antrian yang ngga masuk di akal, yang ada keburu kenyang kalo kelamaan antri 😀

Selain macaroni, mereka juga menyajikan makanan Indonesia seperti Nasi Tutug Oncom, Nasi Goreng, Sop Ikan & Asinan Buah-Sayur

Porsinya ngga main-main, cukup banyak dan bikin kenyang 😅

Setelah puas makan dan ketawa-ketawa, kami memutuskan langsung balik supaya bisa istirahat. Hati senang perut kenyang!

HARI KEDUA : 31 MARET 2018

Seharusnya pagi ini agendanya adalah jalan santai mengitari lingkar luar Kebun Raya & Istana Bogor untuk hunting foto. Tapi perut gue terlalu begah karena sarapannya kalap, jadi gue mutusin untuk berenang aja sambil nikmatin fasilitas yang ada, puas main air sampe waktu check out

Setelah check out, gue nyempetim mampir ke Gudang Dalam, apalagi kalo bukan untuk Asinan Buah-Sayur mereka yang melegenda itu. Ke Bogor tanpa cobain asinan, rasa-rasanya ada yang kurang  🙂

ASINAN SAYUR & BUAH Rp 25.000/porsi

Sebenernya masih ada beberapa tempat lagi yang belum sempet gue datengin selama di sana, seperti jalur pedestrian yang baru dibangun tahun 2017 kemarin juga Masjid Raya Bogor dengan latar belakang pegunungannya.

Sayangnya Bogor terlalu macet siang itu, jadi gue milih segera balik ke stasiun, biar bisa sampe rumah sebelum malam. Semoga lain kali bisa balik lagi, kalo ada kesempatan.

Sambil nunggu waktunya tiba, kalau kalian ada referensi lokasi yang harus dikunjungi  selama di Bogor, tolong kabarin ya :))

coretan PERDANA :)

Woohooo!!

Setelah sekian lama menimbang, akhirnya gue memutuskan untuk mencoba kembali menyentuh ranah blogger.

Kembali?

Iya, 2012 lalu gue sempet mencoba utak atik platform ini untuk ikut-ikutan main blog. Namun karena dasarnya mengekor, maka hanya bertahan kurang dari 3 bulan dengan 4 tulisan yang berhasil ditayangkan 😅

Lalu waktu berputar sampai diawal tahun 2017, gue sangat menikmati platform twitter sebagai media untuk menulis

Entah sebuah sudut pandang, sekedar review makanan dan film, atau bahkan menceritakan pengalaman baru saat ada kesempatan berlibur

Pelan-pelan tulisan gue mendapat respon positif dari beberapa pihak, sehingga ini jelas memacu gue untuk semakin rajin menulis

Rasa-rasanya dokumentasi tulisan gue akan lebih rapih jika tertuang dalam 1 media yang mumpuni

Maka gue coba beranikan diri untuk kembali masuk ke media ini (kembali)

Bismillah, semoga bermanfaat ya, kalaupun ngga untuk kalian, minimal untuk gue dalam mengembangkan diri 🙂

Selamat membaca.